Tampilkan postingan dengan label My Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Stories. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2011

Bagiku, Tetap IBU

Setelah kemarin (dipaksa) menjadi juri untuk lomba Vocal Group Accoustic di kampus, hari ini kursi peradilan itu kembali kududuki.

Lomba yang berikutnya tadi merupakan ajang pencarian pasangan mahasiswa, yang akan menjadi icon kampus, laiknya Abang None yang mewakili Jakarta.

Bersama ketiga juri lainnya, kami berusaha membaca karakter para peserta melalui jawaban-jawaban pertanyaan yang kami lontarkan.

Acara pun dimulai. Peserta dipersilakan mengambil satu gulungan kertas yang berisi pertanyaan dari salah satu dewan juri.

Ketika gulungan pertama berpindah tangan ke genggaman pemandu acara, aku menarik nafas dalam-dalam dan berkata (tepatnya berteriak) dalam hati: pertanyaanku, ayo ayo, pertanyaanku, pertanyaan dari akuuu.

Benar saja. Ternyata pertanyaan pertama itu milikku: Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidupmu? Kenapa ia menjadi sosok yang paling berpengaruh dalam hidupmu?
 

Aku menarik nafas dalam-dalam.
Seperti biasa, aku menjawabnya terlebih dahulu dalam hati dan pikiranku.

Ibu.
Ayo jawab saja ibu.
Jawablah ibu sebagai orang yang paling berpengaruh dalam hidupmu.
Jawablah ibu, aku mohon..

"Ayah" jawab peserta pertama itu mantap.

DEG!

Sesaat aku mematung demi mendengar kata pertama yang keluar dari peserta pertama ini. Sesaat seperti ada rasa perih yang perlahan menjalar di dadaku. Sesaat aku kehilangan kesadaran sedang berada di tengah-tengah ruangan bersama yang lainnya. Sesaat aku seperti merasa ingin berlari ke hutan dan berteriak sekencang-kencangnya.

Tidak, tidak. Ibuuu, harusnya jawabannya ibuuu, aku ingin jawabannya ibuuu..

"Orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya adalah ayah."

Tidak, tidak. Bagiku tetaplah ibu.

"Karena ayah adalah sosok yang berkharisma, mandiri dan mampu menjadi panutan di keluarga kami."

Tidak, tidak. Ibu, dengan kasih sayangnya, lebih mumpuni. Tak kenal lelah memberi penghidupan bagi anak-anaknya.

"Ayah itu lelaki yang bertanggungjawab dan mampu menjaga keluarganya, serta telah berhasil mendidik saya menjadi seperti sekarang ini."

Tidak, tidak. Ibu jauh lebih mengerti aku.

Aku terjaga dari lamunan ketika kurasakan tepukan di bahuku. Rupanya sedari tadi peserta telah selesai dengan jawabannya dan mereka masih menunggu reaksiku.
Aku sedikit tergagap.
Kuberikan tanda bahwa tak ada pertanyaan lanjutan dariku.

Kemudian aku terdiam.
Aku diam.
Diam.




###

Kalau memang ayah itu ada, kemana ia ketika aku menangis untuk pertama kalinya? Kemana ia ketika aku meringis saat lututku terluka karena belajar naik sepeda? Kemana ia ketika aku bersorak gembira ketika pertama kalinya berhasil memenangkan sebuah kompetisi? Kemana ia ketika semua orang memberiku ucapan selamat telah mengukir prestasi-prestasi menakjubkan lainnya? Kemana ia ketika aku ingin bercerita pengalamanku menapaki jengkal demi jengkal tanah-tanah indah di Indonesia? Kemana ia ketika aku berusaha mencari bahu dan pelukan hangatnya untuk mengurangi sesak yang menyiksa saat infus-infus itu sering menggerayangi tanganku? Kemana ia ketika kuperlukan jemarinya untuk mengusap air mata yang berebut keluar di saat-saat terendah dalam hidupku? Kemana ia saat...


Bagiku ibu tetaplah sosok yang paling berpengaruh dalam hidupku, pun apapun kata orang tentang sosok seorang ayah.
Bagiku ibu adalah ibu dan ayahku.

Cukup.








Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Jumat, 25 November 2011

Ke-tidak-adil-an Adil

Empat hari menjelang pertemuan musuh bebuyutan itu, Adil tak merasakan apa-apa, biasa saja, masih bisa melewati masa dengan hari yang berpelangi tawa dan rasa.

Satu hari sebelum pertarungan musuh bebuyutan itu, hanya sesekali sekelebat bayang keraguan menghampiri dirinya. Tapi itupun tak apa baginya.

Tiga jam sebelum titik temu itu, Adil merasakan kejanggalan pada irama detak jantungnya, yang jauh lebih cepat dari biasanya.

Tiga jam sebelum titik temu itu, Adil semakin sering menyeka dahi dan lehernya, yang kian lengket karena aliran keringat dinginnya -padahal kipas angin sudah benar-benar tertuju padanya-.

Tiga jam sebelum titik temu itu, Adil merasa suhu tubuhnya meningkat pesat, namun berbanding terbalik dengan permukaan tangannya yang pucat pasi, seperti baru keluar dari freezer selama berjam-jam.

Tiga jam sebelum titik temu itu, Adil merasakan pelupuk matanya yang kian menghangat dan perlahan mulai mengeluarkan cadangan airnya.

Tiga jam sebelum titik temu itu, Adil merasakan sesuatu yang amat dikenalinya: perasaan takut kalah, seperti kejadian setahun yang lalu, yang mengantarkannya pada detik-detik penyesalan mendalam akibat ketidakmampuannya menyelamatkan gelar jawara tim basket, yang tiga tahun berturut-turut sebelumnya telah direngkuh oleh timnya.

Dua jam sebelum titik temu itu, semuanya masih sama seperti keadaan sejam sebelumnya.

Satu jam sebelum titik temu itu, semuanya masih sama seperti keadaan sejam sebelumnya. Yang berbeda adalah cadangan air dari pelupuk mata itu semakin membanjiri pipinya yang tembem, seperti air hujan yang menetes deras di atas buah apel ranum.

Dan saat akhirnya titik temu itu menghampirinya, Adil berusaha menebar senyum seperti biasanya, namun masih dalam keadaan emosi yang sulit dikuasainya.

Dan baru di kwarter kedua dari titik temu itu, Adil merasakan nyeri yang luar biasa lagi di bagian dada kirinya, tepat di daerah benda yang memberikan degupan kehidupan baginya itu. Rasanya nyeri seperti ditusuk puluhan jarum dan rasa panas yang membakar dari dalam, meski tanpa ada api yang menyembul keluar dari bagian itu.

Adil mahfum.
Ini biasa dan sering terjadi, pikirnya.

Tapi sesungguhnya Adil marah pada dirinya sendiri.
Marah karena belum juga berhasil bisa mengontrol rasa-rasa itu di tubuhnya.

Ini tak adil, batinnya.

Ini tak adil.

Tak adil

Sungguh,

tak adil.


Dan kekalahan yang dipeluknya dari titik temu kali ini (lagi), menambah daftar ke-tidak-adil-an dalam pikirannya hingga saat ini.

Ke-tidak-adil-an yang sungguh, Adil.









Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Senin, 21 November 2011

Pe-sakit-an Sakit



"Anda mengerti ga sih gimana rasanya jadi mereka yang sakit, kemudian menerima perlakuan seperti yang barusan Anda dan temanteman Anda berikan semalam? Bagaimana kalau terjadi apaapa dengan mereka? Bagaimana kalau tibatiba sakitnya kambuh dan harus dilarikan ke rumah sakit? Siapa yang akan bertanggung jawab? Siapa? Siapa?"


Hey, Anda yang mengatakan hal itu kepadaku kemarin, dengarkan ini: 

Ga usah SOK NGERTI gimana rasanya jadi orang sakit, kalau Anda sendiri BELUM PERNAH merasakan sakit.

Ga usah SOK PEDULI sama orang sakit, kalau Anda sendiri BELUM PERNAH berbagi rasa dengan mereka yang pernah sakit.

Ga usah SOK TAHU gimana rasanya sakit, kalau Anda sendiri BELUM PERNAH TAHU gimana rasanya sakit yang benarbenar sakit.

Mereka yang menggunakan ke-sakit-annya sebagai alasan untuk tak berusaha lebih dari yang lain, tak pantas untuk dipantaskan menerima ke-sukacita-an hidup.

Mereka yang berlindung di balik ke-lemah-annya, tak andal untuk bisa diandalkan duduk bersamasama menjalani masa yang tak bertuah tuan korup.

Dan mereka, Anda, yang memainkan peran "pemerhati", tidak -sama sekali tidak- ada harganya di mataku.  Pun itu Anda lakukan dengan (topeng) solidaritas kemanusiaan.


Percayalah, dunia tak selalu nyaman.
Dan Anda, sekali lagi, tak usahlah berlaku tahu jika bahwasannya Anda sendiri tak tahu menahu akan ke-tahu-an itu sendiri.
Tanyakan padaku bagaimana rasanya sakit itu.
Akan kuberitahu Anda lebih dari yang Anda ketahui sekarang.



Titik.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Jumat, 04 November 2011

STOP BERPIKIR MA(hasiswa) PA(ling) LA(ma)!



MAPALA.  Sebenarnya topik ini mungkin sudah sering diperdebatkan.  Banyak kalangan yang memberi nilai minus bin negatif ke organisasi yang satu ini.  Kalau ada mahasiswa yang bermasalah di kampus, misalnya sering bolos kuliah, sering engga ngerjain tugas, dapat nilai rendah pas ujian, atau hanya melihat dari tampilan fisiknya yang rada nyeleneh, pasti ditanya: “ikut  mapala ya?”

Beruntung kalau jawabannya engga, kalau jawabannya iya, alhasil si Induk Semang yang ga mungkin bisa protes itu akhirnya jadi tumpuan dipersalahkan oleh mereka yang memegang teguh idealisme “mahasiswa manut”.  Apa salah si Induk Semang hingga Anak-anaknya diblack list seperti ini?

Aku sebenarnya juga malas nulis tentang ini.  Toh, meskipun tak ku tulis pun, tetap  ada pihak yang berpikir seperti aku (meskipun hanya sebagian kecil).  Toh, meskipun ku tulis pun, opiniopini “miring” itu tetap akan ada dari generasi ke generasi.  Hanya saja malam ini naluriku terusik karena baru saja aku didera (tepatnya dicecar) beberapa pertanyaan dari adik tingkatku: “kak, emang betul ya kalau ikut mapala itu lulusnya selalu lama?”

Arghhh...
Aku ingin menjelaskan semuanya sambil berteriak, agar ia (dan siapapun yang mendengarnya tadi) secepatnya mengerti.  Namun kutahantahan nafsu pembelaan diriku.  Seraya tersenyum kujelaskan padanya betapa sebenarnya kekuatan diri sendiri dalam menentukan pilihanlah yang menjadi ujung tombak segala laku di bumi ini.

Ah, mungkin bahasaku terlalu rumit. Begini maksudku, ikut atau tidaknya seorang mahasiswa dalam sebuah organisasi, tidak bisa dijadikan batasan mutlak untuk masa studinya.

Tak sedikit boneka kampus (maaf, ini hanya bahasa pribadiku untuk mereka yang berkacamatakuda), yang serius atau fokus untuk kuliah saja namun mengalami kendala dalam menyelesaikan studinya.  Walaupun kuakui, mereka yang menduakan studinya untuk kegiatan-kegiatan ekstra, menempati persentase kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan golongan pertama yang kusebutkan tadi.

Mapala itu hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak organisasi kemahasiswaan di kampus.  Organisasi mulia (menurutku) yang telah banyak mencetak kader-kader pilihan.  Kemampuan matematis yang diwahyukan (hahaha) di bangku kuliah, diseimbangkan dengan kemampuan logis dan analistis mapala melewati rentetan tahapan yang harus dilalui anggota-anggotanya.  Sebut saja latdas sebagai garba masuknya, kemudian dilanjutkan dengan lantap, ekspedisi, kepanitiaan, kepengurusan organisasi, dan seterusnya.

Tak semua yang memulai mampu untuk mengakhiri.  Mereka yang terkulai lemas di tengah ujian, biasanya memilih untuk mundur.  Namun label anggota mapala itu hanya akan dianugerahkan kepada mereka yang setia hingga akhir.  Tak tanggung-tanggung, anggota seumur hidup!

Anggota mapala ditempa untuk lebih menghargai alam, ditempa untuk mampu survive dalam keadaan genting sekalipun, ditempa untuk mampu berpikir logis sekaligus kritis dalam menghadapi beragam persoalan.

Jelas sudah betapa agungnya tujuan organisasi yang satu ini.  Atau mungkin aku terlalu berlebihan dan terlalu memujamuja organisasi yang kuikuti sejak 4 tahun silam ini?  Tapi coba kita tengok satu persatu mereka yang telah menjadi alumni kampus sekaligus “purna” mapala.  Adakah yang tak berhasil?  Naif jika jawabannya tidak ada.  Namun kali ini aku berani bertaruh persentasenya lebih rendah ketimbang golongan boneka yang kusebutkan di awal tadi -tentu saja aku berharap masuk deretan mereka yang berhasil- (hahaha).

Aku mungkin terlalu melebarkan topik.  Baiklah, kita kembali saja ke topik utamanya.  Stereotype yang berkembang saat ini, jika ikut mapala maka lumrahlah sudah masa studinya lebih lama dibanding mahasiswa lainnya.  Kegiatan-kegiatan mapala yang rutin dilaksanakan, menurut beberapa pihak menjadi alasan utama keterlambatan kelulusan seseorang.

Tidak benar.  Kutegaskan sekali lagi, TIDAK BENAR.

Jangan pernah mengkambinghitamkan hal lain untuk kesalahan diri sendiri.  Jangan pernah mencari pembelaan yang benar untuk sesuatu yang salah.

Hati dan pikiran si pelakulah yang menentukan kelulusannya.  Dalam bahasa sederhananya: Lu mau lulus cepat kek, lambat kek, itu urusan hati lu, pilihan lu sendiri!


Porsi kegiatan dalam ke-mapala-an memang lebih banyak, namun ini justru semakin menempa anggotanya agar mampu memanajemen waktu sebaik mungkin.  Tak pernah si Induk Semang (aku suka dengan sebutan ini), mengajukan permintaan berlebihan agar Anak-anaknya menyerahkan seluruh waktu untuknya.  Tak pernah sekalipun.

Si Mahasiswa lah yang harus berjibaku dengan pilihan-pilihan hidupnya, serius atau santai, cepat atau lambat, ya atau tidak.

Aku bagian dari mapala di kampusku.  Aku juga bagian dari mereka yang ‘tertunda’ kelulusannya.  Namun tak pernah sekalipun kupersalahkan Induk Semangku.

Hey, kalau ingin sombong, aku juga bisa lulus cepat (sekalisekali ingin kukatakan ini sambil menepuk dada di depan mereka yang mungkin saja sedang mencemoohku).  Di semester enam aku hampir menyelesaikan seluruh mata kuliahku, hanya satu mata kuliah kukerjakan di semester tujuh.  Namun kerinduanku untuk memenuhi bulibuli pengetahuan dalam diri ini membawaku pada pilihan untuk menunda kelulusanku.  Sayang sekali bukan jika masa ‘kritis’ku kuhabiskan hanya dengan tiga K (Kost, Kampus, Kantin)?

Kalau mampu dan mau, kenapa tidak anggota mapala lulus cepat?  Namun...ah...lagilagi ini persoalan pilihan.  Tak seorangpun dari orang lain yang mengerti seutuhnya dirimu selain dirimu sendiri.  Sekali lagi, tak ada pengaruhnya keikutsertaan dalam mapala dengan kelulusanmu.  Pilihan itu ada di tanganmu, kawan.

Kalau tak percaya, coba saja sendiri.
(Setelah itu datangi aku lagi untuk menceritakan hasil dari pilihanmu itu)




                                                                                                                       Celahati, 23 Agustus 2011

###
Tulisan ini juga ada disini dan disini

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Rabu, 26 Januari 2011

Semoga si CANCER Hari Ini Benar...



Setelah semalam berjuang hingga fajar menjelang, aku akhirnya terlelap tanpa ingat mengubah posisiku sebelumnya: duduk. Untunglah meja di depanku cukup tangguh menahan tekanan dari tubuhku, setidaknya hal ini sedikit membantu kualitas istirahatku.

Semalam aku benar-benar merasa so tired and speechless. Sisa 17 hari lagi terakhir seminar untuk yang ingin mengejar kereta toga di bulan Maret tahun ini. Dan itu rasanya begitu mustahil bagiku saat ini.

Aku baru menghasilkan 183 titik bor dari 350 titik yang seharusnya. Itu artinya masih ada 167 titik yang perlu kukejar dalam waktu dekat. Belum lagi dengan analisa laboratorium dan datanya, belum lagi mengurus segala tetek bengek lainnya.

Apa aku harus ketinggalan kereta lagi?
Sesal selalu datang belakangan. Ia sengaja bersembunyi untuk menguji ketangguhan mental sang pengambil keputusan. Dan kini aku menyesal.

Selalu saja aku berandai-andai. Andai saja sejak dulu aku serius mengerjakannya, andai saja sejak dulu bisa kukendalikan nafsu organisasiku, tentu saja kini telah ada dua huruf di belakang namaku.

Namun nyatanya aku terbawa arus. Tergerus langkah kaki masa karena bergitu tergila-gila menekuni profesiku yang lain.

Padahal di semester enam aku hampir menghabiskan seluruh keperluan SKS untuk menjadi sarjana. Hanya kutinggalkan satu mata kuliah terakhir di semester tujuh.

Itu artinya harusnya semua ini telah ku mulai di semester tujuh. Nyatanya dua bulan yang lalu aku baru serius menekuninya, di semester sembilan..

Fyuuuhh...inilah pelajaran yang dapat ku petik. Inilah akibat dari ketidakmampuanku mengendalikan prioritas hidup.

Semoga Ia memampukanku melewati ini semua.

Dan semoga ramalan zodiak yang tak sengaja ku baca pagi ini benar-benar jadi kenyataan.


Semoga





CANCER
You may not realize it, but at the start of your day, you're in the perfect position to build something big, especially with another person. Working on the foundation of a partnership or romantic relationship will suddenly become a lot easier as your communication skills take the wheel and steer you down a lighthearted, nurturing path. You're entering a very constructive phase right now -- your confidence is strong, and your desire is even stronger.


Begini kira-kira artinya:
Anda mungkin tidak menyadarinya, tetapi pada awal hari Anda, Anda berada di posisi yang sempurna untuk membangun sesuatu yang besar, terutama dengan orang lain. Bekerja atas dasar kemitraan atau hubungan romantis tiba-tiba akan menjadi jauh lebih mudah karena kemampuan komunikasi Anda untuk mengambil roda dan mengarahkan Anda ke jalan yang lebih mudah. Anda sedang memasuki fase yang sangat konstruktif sekarang - kepercayaan diri Anda yang kuat, dan keinginan Anda lebih kuat.



###
Tulisan ini juga ada disini

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Jumat, 14 Januari 2011

Firasat...?



Aku pernah takut mati.
Oktober 2009, lebih setahun yang lalu. Saat aku terbaring kritis di rumah putih, ruang Mawar II.

Saat itu trombositku hanya 50 ribu, angka yang sangat rendah dari angka normalnya. Pandanganku mengabur, berbicarapun sudah sangat sulit rasanya. Satu-satunya yang membuatku nyaman adalah memejamkan mata.

Tiba-tiba kurasakan ada seseorang yang memanggilku untuk pergi mengikutinya. Orang itu menarikku dan mengatakan bahwa aku harus ikut ke tempatnya. Aku memberontak. Aku takut sekali. Sekuat tenaga kulepaskan tangannya, hingga akhirnya cengkeramannya terlepas dan aku berlari sekencang mungkin menjauh darinya.

Ternyata itu hanya mimpi. Kala itu, sekitar pukul 02.00 dini hari.

Kutoleh mamah yang tertidur pulas di kursi. Ingin rasanya menceritakan apa yang baru kualami, tapi tak tega rasanya membangunkan beliau yang terlihat kelelahan setelah merawatku hingga 7 hari ini.

Aku terdiam, merenungi mimpiku. Sayu kupandangi dinding kamar tempatku dirawat. Aneh. Rasa-rasanya dinding ini putih, tapi mengapa malam ini samar-samar aku melihat begitu banyak wajah terpampang di sana? Tak satupun kukenali, namun mereka seolah-olah memandangiku dengan tatapan yang sulit kumaknai.

Aku mulai berpikir bahwa ini adalah tanda-tanda akhir dariNya untukku. Aku mulai menangis, terisak namun tak bersuara karena takut ketahuan mamah.

Kucoba memejamkan mata sekali lagi. Namun pikiranku kembali berkecamuk, menyuarakan ketakutan-ketakutan yang tak bertepi.

Aku takut melepas semua yang kumiliki. Aku takut kehilangan orang-orang yang kusayangi. Aku takut di sana nanti tanpa didampingi seorangpun yang kukenali sebelumnya. Aku takut menghadapi ini sendirian. Aku takut sekali.


Hingga akhirnya aku mencoba membuat penawaran dengan Tuhan. Kukatakan jangan mengambilku sebelum aku menginjakkan kaki di tanah Papua. Hal ini tiba-tiba saja terbersit dalam pikiranku, karena hanya pulau itu yang belum kudatangi dari 5 pulau besar di Indonesia.

Egois memang. Namun setelah mengajukan permohonan ini aku baru bisa tertidur lagi. Pasrah.

Esoknya kondisiku membaik, dan 3 hari kemudian aku dinyatakan dokter cukup pulih dan boleh dirawat di rumah.

***

Nopember 2009 ada acara yang membawaku ke Jogjakarta. Kusempatkan mengunjungi Candi Borobudur. Konon katanya apabila kita menjulurkan tangan untuk meraih Stupa di sana dan berhasil menyentuhnya, umur kita masih panjang dan cita-cita yang kita inginkan akan tercapai.

Kucoba saja, yah setengah percaya setengah tidak.

Ternyata aku tak bisa meraihnya, tidak seperti teman-temanku yang lain. Meskipun tak percaya sepenuhnya akan mitos ini, namun hasilnya membuatku kembali tercenung. Benarkah tak lama lagi?

***

Mei 2010 Tuhan mengantarkanku ke tanah Papua melalui sebuah kegiatan. Sukacita luarbiasa ketika pertama kali kujejakkan kaki ini di tanah Denias. Namun tentu saja aku tak melupakan deal-dealan yang kusepakati secara sepihak dengan Tuhan saat aku terbaring di rumah putih.

Aku mulai ketakutan lagi. Kapan..? Kapan waktunya aku harus membayarnya, Tuhan? Tanyaku khawatir dalam hati...

***

31 Desember 2010. Aku berkumpul dengan teman-teman Mapala Graminea di lapangan bola untuk melewati malam pergantian tahun.

Setelah hampir satu jam merasakan tahun 2011, kulirik jam sudah pukul 00.55 WITA, sama dengan pukul 23.55 WIB di tahun 2010 di tanah kelahiranku.

Sengaja aku menjauh sedikit dari teman-teman untuk mencari tempat yang agak sepi. Kebiasaan mengawali tahun baru dengan berdoa bersama membuatku mengambil handphone untuk menghubungi sanak family yang ada di kampung halaman. Tahun ini hanya aku yang tak bisa pulang karena harus mengejar menyelesaikan penelitian S1 ku di tanah orang. Tapi tak menjadi soal karena kami telah berjanji untuk berdoa bersama, meskipun aku hanya mendengarkan dari telepon.

Suara tawa dan canda mereka di telepon sempat membuatku menyesal tak menyempatkan diri untuk pulang sebentar. Namun itu tak berlangsung lama, karena kami semua telah siap untuk berdoa bersama.

Kujepit handphone di telinga kiri, sementara kedua tanganku kusatukan di depan dada. Baru saja untaian doa dimulai, tiba-tiba saja handphoneku melorot dan jatuh terempas ke tanah dengan kerasnya. Mati pula handphoneku.

Dengan terburu-buru kunyalakan dan kucoba menghubungi mereka lagi. Sh*t!! Tidak bisa dihubungi. Kucoba dan kucoba lagi. Tetap tidak bisa.

Kucari nomor lain yang mereka miliki.

"Halo.. Ini lagi berdoa, May.” Ternyata mamah yang angkat teleponku.

Saat aku ingin berkata-kata lagi tiba-tiba tut...tut...tut... Telepon terputus.

Aku bengong.

Aku kaget.

Aku shock.

Kenapa begini?

Bukannya kami telah berjanji berdoa bersama.

Kenapa jadi begini?


Bola-bola kristal tak bisa kubendung lagi.

Kurasakan lututku menjadi lemah, tak mampu berdiri lagi. Aku duduk di tanah, lalu memejamkan mata dan mulai berdoa. Kutanyakan pada Tuhan apa maksud semua ini. Aku benar-benar merasa sendiri. Aku merasa ditinggalkan, atau mungkin tak sengaja tertinggal?

Tak berapa lama setelah selesai berdoa, kudapati sms dari kakakku yang minta ditelepon lagi.

Dia bilang, tadi mungkin karena gangguan sinyal. Tapi mereka sudah mendoakanku, jadi aku tak perlu khawatir.

Susah payah kuatur nafas agar tak ketahuan sedang menangis. Kukatakan tak apa-apa, aku
baik-baik saja.

Padahal aku bohong.

Aku bohong..

***

Hingga saat aku menuliskan kisah ini, aku masih menangis. Entah kenapa rasanya hal ini begitu mengganggu pikiranku.

***

Kalau memang sesuatu yang kurasakan tadi malam adalah sebuah pertanda, maka inilah masa terakhirku untuk melangkahkan raga...

Jalani saja.

***

Bernyanyilah denganku hari ini, karena mungkin saja esok Ia akan memanggilku kembali padaNya.

***








###
Tulisan ini juga ada disini dan disini
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Sabtu, 23 Oktober 2010

Horeee... Dapat piala lagi.. ^^



Praise The Lord! 


Di masa2 yg orang bilang 'angkatan tuha', namun masih bisa menunjukkan eksistensi diri. Bukan dengan maksud menyombongkan diri, melainkan sebagai bukti nyata atas 'naga' yang ada dalam diri ini.. :)




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Jumat, 22 Oktober 2010

Kisah Sore Itu...


http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs561.snc3/30662_1449812207539_1300258381_31245058_125723_n.jpg


Jam udah nunjukkin jam 6 sore. Udah jam pulang nih, pikirku. Setelah ini mau ke lapangan basket nonton teman2 Himatan cowoknya tanding di final Decan Cup 2010.

Eee... baru aja beberapa meter dari tempat parkir tiba2 aja motorku gluduk…gluduk… Lho? Ini motor atau kuda sih? Wah ada yg kaga beres nih, pikirku. Kupinggirkan motorku, oalaaah… Rupanya si lateks yang melekat di buncu motorku ini bocor. Asem! Ini untuk yg ketiga kalinya ban motorku bocor di bulan ini, sama2 ban belakang pula.

Dg wajah tak bersalah, kunyalakan motor setiaku ini. Brum…brum… dg susah payah si Kharisma X bergerak, lengkap dg genjot2nya seolah tak rela kunaiki.

Untunglah ada bengkel yang masih buka di pinggir jalan raya. Kuparkirkan motorku dan tanpa ba bi bu alias tanpa cas cis cus alias hanya dengan bahasa kalbu, di bapak tambal ban seolah mengerti jeritan hatiku. Ia pun bergegas mengoperasi ban motorku.

“Robek, mbak. Ga bisa ditambal lagi, harus ganti ucus.” Akhirnya si bapak bersuara juga. Untunglah kalau ga pasti kusangka beliau ini robot dari planet Mars.

Apes! Mana udah tgl segini lagi, dompetku cuma dihuni selembar limapuluhan, dua lempar duapuluhan dan beberapa lembar ribuan aja.

“Ganti aja, Pak,” ucapku lemas. Bah! 3x bocor, 3x pula ganti ucus, dan hebatnya itu terjadi dalam kurun satu bulan ini.

“Yg baru habis mbak, yg ada ucus bekas aja,” kata si bapak. Argghh… Sedikit lega tapi khawatir juga. Lega karena artinya harganya lebih murah, tp khawatir juga takut kenapa2 krn kualitasnya second. Akhirnya si bapak memulai pekerjaannya setelah mendapat persetujuanku.
Tak berapa lama berselang, datang seorang pemuda yg tergopoh2 membawa Kuda Jepangnya, tanpa dinaiki. Pastilah ia juga mengalami nasib sepertiku, pikirku dalam hati.

Pemuda itu juga diam seribu bahasa, sama seperti aku waktu pertama datang tadi. Ah apa memang begini adabnya bila menghadap tukang tambal ban? Tak perlu berkata2 sudah langsung dimengerti. Atau jangan2 si bapak ini ahli nujum? Atau jangan2 si bapak ini ahli telepati? Ah… peduli amat, yg penting motorku cepat selesai.

Tak dinyana, tiba2 terdengar bunyi blumm…krotak…krotak…ciiiiittt…..
Aku melengos karena kaget, maklum tomboy2 gini aku juga mudah bgt dikagetin. Hehe..
Rupanya ada pick up yg melaju dg kecepatan tinggi dan tiba2 ban belakangnya copot. Alhasil mobil langsung oleng ke kiri dan ke kanan bak penari Jaipong. Untunglah sang sopir cukup terampil memainkan setirnya, sehingga ga sampai terjadi kecelakaan.

Bah, dapat tontonan mendebarkan membuatku semakin gelisah. Kutoleh ke arah motorku, si bapak sedang mengencangkan mur2 motorku. Sedikit lagi selesai, batinku senang. Tak lama kemudian aku berdiri, bersiap mengeluarkan dompet namun tiba2 saja raut wajah si bapak berubah.

“Waduh maaf, mbak. Kayaknya ucus bekas yg saya pasang tadi juga bocor. Terpaksa ditambal lagi.”

Oh, wahai Dewa Matahari, Mahatma Gandhi, Galileo Galilei, Mathias Muchus, Christian Sugiono, Endang Soekamti, Nunung, Aziz Gagap, Sule, Parto, SBY, Klose, Podolski, Scweinsteigher, atau siapa saja yg mau meneduhkan hati gersangku saat ini. Tolong beri aku air, beri aku cahaya, tolong beri aku apa saja yg bisa kalian beri, agar aku bisa melupakan kekesalanku saat ini.

Si pemuda hanya senyum2 memandangku. Huh, belum tahu dia kalau aku juga bisa makan orang. Kujadiin makan malamku nanti baru tahu rasa!

Kualihkan perhatianku dg membuka facebook.com, barangkali aku bisa ketemu status2 yg menarik untuk dikomentari, ujarku menyenangkan diri. Tiba2 ada sms masuk, dari Chandra. Isinya: “Score sementara 4:4, tanding di pending. Besok sore lanjut kwarter 3 & 4”

Hah…gagal deh nonton basket sore ini. Aku jadi semakin tak bersemangat. Aku pengen makan oraaaaaaannggggg! Argh Argh Argh!

“Mbak, motornya udah beres.” Si bapak membuyarkan lamunanku.

Bergegas ku bayar ongkos reparasi si karet hitam. Lima belas ribu. Lumayanlah murahnya pikirku. Aku segera melaju menembus senja. Sesampainya di kost aku segera membersihkan diri, kemudian berbaring di atas ranjang rongsokanku. Kuulangi lagi tiap2 kejadian yg kualami tadi. Hahaha…aku tertawa sendiri bila mengingat semuanya.

Kuambil hp, ku sms mamah & kk2ku. Tak puas, lalu ku telepon mereka satu persatu. Kemudian kami saling mengumbar kemesraan dg obrolan2 renyah yang merenyahkan hatiku juga.

Hmm… Hari yang aneh pikirku, tapi menarik untuk kuceritakan di sini. Barangkali ada yg mengalami kejadian yg sama. Bolehlah kita berbagi rasa, agar tak banyak ‘korban’ yg kita makan karena kekesalan kita itu. Hihihi… ^^



###
Tulisan ini juga ada disini dan disini

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO